Tuesday, December 04, 2012

5 Hal Untuk Membuat Kita Tetap Open Minded

Jangan menghalangi diri kita sendiri untuk terus belajar.

Kebanyakan orang tidak terlalu ambil peduli tentang bagaimana mereka belajar. Secara umum Anda
bahkan saya menganggap proses belajar datang dengan alami.
Kita mendengarkan orang berbicara, baik dalam proses bercakap-cakap , atau kita memang sedang belajar seperti di perkuliahan dulu
, dan kita langsung meresap apa yang kita dengar dari proses percakapan tersebut, begitu kan menurut Anda ?
Sebenarnya tidak seperti itu. Faktanya, semakin umur kita bertambah maka semakin banyak waktu atau semakin lama proses yang kita butuhkan untuk belajar hal baru.

Semakin banyak saya mengisi otak saya dengan fakta-fakta, dengan bentuk, gambar, diagram, pengetahuan dan pengalaman maka semakin sedikit tersisa ruangan di otak saya untuk diisi dengan ide baru dan pemikiran yang baru.
Plus, sekarang saya memiliki sangat banyak opini yang mungkin saja akan menjadi benteng yang akan menolak ide-pemikiran baru dari luar yang akan memasuki pikiran saya.
Seperti kebanyakan orang, saya menganggap diri saya sebagai pecandu ide dan pemikiran, tapi tetap saja
saya harus bekerja keras berulang ulang untuk menjaga otak saya tetap terbuka untuk ide dan pemikiran yang baru dan segar.

Akan tetapi, kebutuhan akan belajar secara tidak sadar akan terus ada dan tisak
akan berhenti, jadi kebutuhan kita untuk belajar akan selalu melebihi keinginan kita untuk selalu berpikiran benar.
Dunia ini berubah, ide-ide brilian terus bermunculan setiap saat, mengadopsi hal baru ini akan terus membuat kita
terikat dan relevan dengan dunia sekarang. Beberapa metode dibawah ini mungkin akan sangat membantu kita menjaga agar kita tetap berpikiran terbuka, dan tetap cerdas.

1.  Cuekin Inner-Voice kita
YAh, benar, suara hati atau suara otak yang kita tahu masing masing. Suara kecil yang selalu bergumam di otalk
kita , selalu berkomentar dan terus memaksa kita berkomentar akan pembicaraan apapun oleh siapapun
saat kita justru butuh mendengarkan. Suara ini yang membawa opini tentang informasi yang diberikan pada pikiran kita. Akan sangat mudah untuk lebih memperhatikan suara
hati kita ini dibanding mendengarkan pembicara yang sebenarnya, teman kita bercakap, atau orang yang memberikan kita ide dan informasi baru. Suara yang sring menghambat kita
untuk mendengarkan secara terbuka dan objective , dan terkadang malah mematikan fungsi penyerapan ilmu dan ide baru bahkan sebelum si pembicara selesai berbicara.
Coba lah untuk tidak mengindahkan sura ini, dan fokus untuk diam dan lebih mendengarkan sura pembicara, si penyedia ide atau informasi, dan kita akan kaget, betapa cepat kita bisa
menerima informasi baru tersebut.

2. Berdebatlah dengan Diri Kita Sendiri
Jika kita sangat sulit untuk tidak mengindahkan suara hati kita, maka coba pendekatan lain, yang mungkin akan punya efek positif lebih bayak, debat suara hati kita !
Setiap saat Anda merasa suara hati kita berlawanan dengan ide baru dari pembicara, maka berhenti dan berusaha memberikan masukan ke otak kita bahwa si pembicara dan ide nya punya lebih banyak
kemungkinan benar di banding suara kita sendiri. Kasus terbaik dimana kita berhasil membuka pikiran kita dan mendapatkan pemiran baru yang brilian, kalaupun gagal kita tetap mendapatkan
masukan positif, dan akan menguatkan argumentasi diri kita akan ide yang gagal tersebut.

3. Berpura-puralah Serius !
Beberapa orang secara alami memang serius. Tapi tidak semua orang bisa serius di semua jenis ide dan pembicaraan, Saya contohnya. Dan dengan berpura-pura serius, maka di area pembicaraan manapun, kita
pasti memperoleh ilmu baru,ide baru. Saat mendengarkan pembicaraan, dalam debat atau meeting, ambillah waktu , dan tuliskan 3 sampai 5 pokok pikiran dari perbincangan tersebut.
Jika ada laptop, Google it ! Berusaha mendahului informasi dengan menyediakan informasi lebih lengkap, dan mengulanginya kepada si pembicara akan membuat kita dengan cepat menerima ide dan konsep baru
selain langsung menguasai topik pembicaraan !

4. Menemukan Kebenaran
Secara otomatis, hati kita akan menolak ide yang belum pernah kita pikirkan, nilai default dari ide baru yang masuk ke otak kita adalah SALAH ! Maka untuk menerima ide baru tersebut, tgemukan sendiri kebenarannya
sesaat setelah ide tersebut mencoba masuk ke pikiran kita, carilah kebenarannya. Teknologi telah mendukung metode ini, Ada Google, dan Wikipedia, gunakan ini, dan menerima ide baru tidak lagi seperti menuangkan air ke dalam gelas yang penuh, tapi
seperti pasir pantai, yang terus menerima resapan air tanpa menjadi banjir...

5.  Fokus pada ide , bukan ke orang nya.
Sangat lumrah, kta membuat penilaian based on the cover. Based on the speaker. Jujur , saat menerima sebuah ide baru, bilamana ide ini di keluarkan oleh seseorang yang punya sejarah yang kurang nyaman dengan kita, maka nilai
default idenya adalah SALAH, MENGADA-ADA, NGECAP, paling tidak NGARANG. Dan bila yang berbicara adalah orang yang kita senangi, maka nilai default ide tersebut menjadi LUAR BIASA, PINTER JUGA NIH dan banyak pujian lainnya.
Cobalah fokus pada ide nya. Pisahkan antara informasi dengan si pembawa informasi. Toh tidak semua buku yang punya sampul bagus berisi kisah berbobot...


Well, saya coba, dan Insya Allah bisa !



1.

0 comments :