Wednesday, October 17, 2012

Malas Ngomong Pilkada

Tadi waktu pulang kerja, kebetulan tidak naik mobil sendiri. Pulang naik taxi. Biasanya saya terbilang cerewet kalau naik taxi, apa lagi yang rada ugal-ugalan, tapi tadi itu tidak. Mungkin karena sopir taxinya bawa taxi lumayan bagus, dan memang saya lagi tidak mood.
Tapi akhirnya setelah beberapa belas menit berlalu, keheningan itu pecah ketika pak sopir mulai bertanya basa-basi.


" Baru pulang Pak ?"
" Iya.. sopir saya kejebak macet di MTOS pak"

baru berbicara 2 potong tadi, kami memasuki daerah macet di area panaikang sampai ke depan kantor gubernur Sulawesi Selatan di Jalan Urip Sumoharjo. Lagi macet dan mobil melambat di depan kantor tersebut, yang sarat dengan baliho Incumbent gubernur , dan mungkin karena bad mood sedari beberapa bulan jalanan macet kita hanya ditemani baliho pejabat narsis, akhirnya saya berkomentar.

" Pilih siapa pak calon Gubernur nanti "
"Saya tidak memilih pak, KTP saya KTP kalimantan"
" Ohh", Kalau Saya saja orang disini (Makassar) Juga malas memilih "
"kenapa Pak?"

"Saya malas memilih orang-orang sudah kaya, mau jadi pejabat , yang hanya mengedepankan kepentingan jabatan itu saja dibanding kepentingan kota ini. Coba lihat jalanan utama kota di Makassar yang sudah hancur kiri kanan nya oleh poster bakal calon, lihat aspal yang bolong-bolong, lihat becak yang masuk ke kota tanpa aturan, pete-pete yang semakin hari luar biasa banyaknya dengan standar kendaraan yang tambah aneh, adalagi bentor masuk kota tidak jelas termasuk kendaraan apa, pokoknya kota ini padat masalah, dan pemimpin incumbent sekarang untuk Kota makassar dan incumbent untuk Gubernur SulSel pun bertarung Head-To-Head berebut kursi jabatan Gubernur tanpa menyelesaikan pekerjaan mereka dulu di Kota dan provinsi ini "

" Betul pak, betul itu"
" Belum lagi hampir semua keluarga pejabat menjadi anggota partai dan legislatif untuk saling mengamankan, belum apa apa sudah tercipta tirani dan model diktator mini setingkat kabupaten kota dan provinsi"
"Betul pak itu.." (Ini dia ngerti kagak hehehhe... tapi tetap saya tancap gas..
"Saya tidak bakalan memilih pak, kecuali mereka mau bersumpah dan langsung action untuk memecat semua keluarga mereka yang jadi pejabat dan legislatif karena jabatan nya, dan bersumpah untuk tidak mengikutkan keluarga/ perusahaan pribadi mereka terlibat dalam kerjasama politik"

"Betul itu pak" (cuman itu aja komentanya)

Kemudian si sopir mulai berkata,

"kalau kita' orang miskin orang kecil yang penting bisa makan pak, bisa urus KTP gratis, bisa anak-anak sekolah gratis, bisa dapat kredit murah , gampang"

"Memang sekrang tidak gratis pak yah ?"
" Apppa  Sekolah ?? Tidak pak, gratis masuk tapi ada uang bangku, uang kursi dan uang furniture lainnya "
" Hahahahhah"
"Bikin KTP lewat lurah ada "pajak", lewat camat ada juga, yang cetak ada juga "
"masa pak ? saya tidak lewat situ, banyak sekali ?"
"Iya pak, bapak urus KTP dimana ?"
" Saya di uruskan sama teman saya di Kelurahan, gratis "
"Lah masa kita orang miskin malah bayar pak ?"

Bingung ... saya menjawab, waktunurus KTP itu saya bilang saya keluarganya Pak Itu jadi gratis heheheh ...

Tidak terasa , sampai di depan rumah.
Wassalam

0 comments :