Thursday, March 06, 2014

Persepsi Mengenai Bekerja, Ibadah Dan Rezeki

Assalamu Alaikum Wr Wb

Dear Pembaca Budiman ..

Hari ini saya mencoba berdiskusi dengan pembaca, mengenai persepsi kita semua, atau lingkungan dan keluarga kita mengenai bekerja dan hubungannya dengan rezeki.


Bekerja Untuk (adalah ) Ibadah

Setiap manusia di ciptakan dengan tujuan tunggal yaitu untuk beribadah hanya kepada Allah SWT (QS : Adz-Dzaariyaat (51 ayat 56) ) Dengan tujuan tersebut, kita bisa sebut sebagai Visi kita untuk menjalani hidup. Misi kita secara explicit disebutkan dalam AlQuran adalah untuk menjadi Khalifah ( Surat al-Baqarah: 30 ) di muka bumi. Mewakili Sang Empunya Alam Semesta mengurusi bumi dan kehidupan sebaik mungkin. Menjadi masing masing pemimpin dalam lingkup terkecil (diri sendiri) sampai terbesar (Pemimpin Negara).

Visi hanya untuk beribadah secara logis mengatakan bahwa segala sesuatu dengan diniatkan baik dengan niat ibadah, maka akan dinilai ibadah.  Bekerja adalah proses yang bukan hanya proses mencari nafkah materi saja, tapi juga untuk memenuhi khittah visi dan misi manusia sebagai mahluk ciptaan Allah SWT. Bekerja dengan niat sebagai visi ibadah dengan bismillah dengan niat memenuhi kebutuhan materi keluarga, dengan sebaik mungkin, dengan sejujur dan semaksimal mungkin, bernilai ibadah penuh.

Ibadah, adalah amalan dengan pahala. Berimplikasi terhadap kemakmuran dan kesejahteraan duniyaa wal akhirah .

Rezeki

Setiap mahluk terlahir dengan membawa 3 hal yang pasti dalam kehidupan di dunia.

1.  Kapan Mahluk Tersebut Meninggal (mati).
2.  Takdir Baik dan Takdir Buruk.
3.  Rezeki sejak bernafas sampai berhenti bernafas.

Kematian telah dituliskan, dan tidak bisa di maju-mundurkan. beberapa kupasan dalam Al Qura'an mengenai amalan untuk memperpanjang umur adalah murni hak Sang Pemberi umur, apakah itu punya pengaruh benar atau tidak, kita hanya punya kewajiban yakin saja, jika hal itu memang di riwayatkan dalam Al Quran, atau ddalam riwayat hadist nabi yang kuat.

Kematian adalah rahasia, yang setiap detik ada kemungkinan terjadi. Kita hanya berusaha agar saat kematian terjadi kita ada di tempat yang baik, dan sedang melakukan amalan baik. Tentunya amalan yang diniatkan atau memang ibadah.

Takdir baik dan takdir buruk adalah salah satu hal yang menjadi rukun Iman buat kita pemeluk Islam. Menurut saya Takdir itu adalah sesuatu yang telah lewat baru saja. Sebelum itu terjadi kita belum bisa mengatakan itu takdir ( sebenarnya yang belum terjadi adalah planning dan berusaha, serta tawakkal ) . Takdir punya banyak cabang dengan ujung yang sama. Cabang tersebut bisa pendek panjang bengkok, berputar jauh atau memotong dekat ke arah tujuan kejadian yang di takdirkan.

Rezeki, terletak dalam lingkaran takdir tadi. Sejak lahir kita sudah di takdirkan oleh jumlah rezeki yang jadi milik (titipan) kita . Secara rahasia rezeki itu tersebar disepanjang takdir hidup kita tadi. Titik titik dan besaran rezeki yang bisa kita dapatkan per satu waktu, bergantung pada usaha kita mendapatkannya (Bekerja, tawakkal, berdoa). Makanya ada manusia bisa dalam satu waktu mendapatkan banyak rezeki (pekerja berbasis kontrak/proyek), ada yang sedikit tapi konstan ( gajian ), ada yang banyak , sering, tapi di akhir hidup dimiskinkan, dikerjar kejar dan di penjara (korupsi) naudzubillahi..

Di dalam rezeki kita jelas ada rezeki orang lain . Mungkin anak, istri, orang tua, tetangga, yatim dan fakir miskin. Rezeki seperti airn yang mengalir dalam sebuah saluran , bisa selang bisa pipa ledeng . Selang dan pipa mewakili usaha kita, termasuk benar tidak usaha tersebut . Tapi tetap saja rezeki itu harus berputar. Aliran air dalam selang atau pipa tidak akan deras masuk, apabila bagian ujung keluarnya di tutup rapat, dalam artian tidak ada sedekah, tidak ada sumbangan, zakat dan sebagainya.

Bahkan dalam beberapa kasus selang atau pipa yang ditutup rapat dengan arus air yang terus dipaksakan akan membuat selang dan pipa bocor sana-sini, menetes sana sini, bahkan lebih extrem meledak, meluap lepas, dan tidak tersisa. Keadaan ini yang membuat kita saat pelit, kurang zakat bisa berakibat rezeki hilang mendadak melalu bencana. Mungkin kecurian, sakit keras, atau bencana kebakaran, banjir , dan gempa.

Flow rezeki mesti benar, agar rezeki itu lancar dan tidak merusak wadahnya.

Jika demikian penjelasannya berarti Bekerja tidak berbanding lurus dengan rezeki , karena rezeki sudah ada. Benar. Tidak ada hubungan langsung. Anda bekerja 2 kali dapat 2 rezeki. Karena rezeki itu sudah pasti ada. Bisa dari usaha, atau dari orang lain, atau pemberian. Bekerja dalah usaha membuat rezeki itu stabil dan konstan, atau berhubungan seberapa banyak rezeki dalam satu waktu. Tapi, walau tanpa bekerja ada tetap rezeki yang kita dapatkan. Contohnya Udara, air, dan kesehatan.

Bekerja hanya mempertahankan rezeki itu menjadi stabil grafik naik turunnya.

Mengais rejeki dengan cara halal berfungsi untuk itu. Kalau bekerja dengan cara salah, tetap saja rejeki itu masuk, tapi menjadi balik ke kupasan rusaknya pipa akibat rejeki yang di manajemen dengan salah.

Wallahu Alam.
Hanya pendapat pribadi.

Wassalam Alaikum Wr Wb






0 comments :