Sunday, November 27, 2011

Cloud Base OS

Beberapa hari yang lalu , saya mengikuti seminar yang lebih tepat ajang jualan salah satu vendor hardware . Jualan server, PC, laptop, Smith, bisa dibilang produk portofolio mereka cukup luas dengan harga bersaing (loh kok saya malah jualan nih hihihi). Bukan itu tentunya yg ingin sy tulis di artikel ini, tapi salah satu sesi memang membuat kami praktisi IT Makassar, di perusahaan menjadi semakin yakin bahwa ke depannya seluruh infrastruktur pendukung dan utama di area kita akan menyusut dalam hal dimensi fisik, akan lebih gegas dalam performa dan lebih luas dalam storage. Blade Server akan sedikit meminggirkan fungsi rak dan pengkabelan yang rumit, switch masuk ke rak, dan menjadi modular.


Akses lokal akan lebih nyaman dengan gigabit ethernet, segala sesuatu bisa di virtualisasi kan, jika bisa bayar beli lisensi sekalian dari vmware atau kalau punya admin yg idealis sekaligus "egois" bisa pake solusi open source seperti Proxmox. Sulistio thin bahkan terminal Client menjadi ide yg masuk akal di tengah ribetnya menangani user non teknis di kantor yang rewel ke IT staf hanya masalah Excel yang tidak bisa di save. Sepertinya semua kelihatan sangat mudah dengan di setujui ya anggaran belanja seluruh paket tersebut, dan terasa sebagai solusi permanent ..heheh benarkah begitu. Menurut saya satu2nya yang paling diuntungkan adala vendor itu sendiri , kita bisa membuat ide dan segala pengeluaran biaya tersebut menjadi kuburan kita sendiri.

Kedengaran terlalu berlebihan ? Tidak, ini fakta yang harus kita persiapkan counter-measured nya.Dengan ratusan kita pengeluaran, dengan infrastruktur baru yang mahal, dengan penggantian PC Client agar cocok dengan kons terminal Client , bukankah penagihan atas ROI menjadi lebih kejam? Anggaplah semua itu telah sukses melewati masa implementasi, apa langkah selanjutnya ? Dan apa risikoada setiap langkah tersebut? (bersambung)

0 comments :